Sabtu, 15 Maret 2025 menjadi hari bersejarah bagi ekosistem kecerdasan buatan di Indonesia. Indonesia AI Institute (IAII) resmi diluncurkan melalui sebuah Public Webinar bertema “AI untuk Perempuan: Membuka Peluang Lebih Besar & Bekerja Lebih Efisien”
Pemilihan tema ini bukan tanpa alasan namun acara launching ini bertepatan dengan momen Women’s March, menegaskan komitmen IAII untuk mendorong transformasi digital yang berkeadilan gender sejak hari pertama berdirinya.
Kehadiran IAII disambut positif oleh Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, yang menyebutnya sebagai langkah strategis dalam membangun ekosistem AI Indonesia yang inklusif, inovatif, dan berdaya saing. Dalam sambutannya, Menteri Meutya menegaskan bahwa AI telah menjadi bagian nyata dari kehidupan sehari-hari dari otomatisasi industri hingga personalisasi layanan digital.
Webinar ini menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang yang kompeten:
- Ulziisuren Jamsran (Perwakilan UN Women untuk Indonesia & Liaison ASEAN)
- Josefhine Chitra (Head of Corporate Communication, GoTo)
- Tessi Fathia Adam (Group Head Digital Transformation, ParagonCorp)
- Haryati Lawidjaja (EVP – Head of Fintech, Indosat Ooredoo Hutchison)
Tantangan: Kesenjangan Digital Gender
Salah satu isu krusial yang diangkat adalah potensi otomatisasi yang mengancam lapangan kerja terutama pekerjaan yang selama ini banyak digeluti perempuan. Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat, kesenjangan digital antara laki-laki dan perempuan berpotensi semakin melebar.
Ulziisuren Jamsran dari UN Women menyoroti fakta bahwa meski konektivitas internet perempuan terus meningkat, hanya 20% perempuan di negara-negara berpenghasilan rendah yang saat ini terhubung online. Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia saat ini berada di peringkat ke-46 dari 62 negara dalam Global AI Index 2023, yang menegaskan urgensi investasi berkelanjutan dalam infrastruktur digital.
Peluang: AI sebagai Akselerator Kesetaraan
Di sisi lain, para pembicara sepakat bahwa AI memiliki potensi besar untuk mempercepat kesetaraan gender apabila dimanfaatkan secara tepat. Josefhine Chitra dari GoTo menekankan bagaimana AI dapat menghemat waktu secara signifikan dalam berbagai pekerjaan sehingga memungkinkan perempuan untuk lebih fokus pada pekerjaan bernilai tinggi.
Program dan Inovasi IAII
Sejak awal berdirinya, IAII telah mempersiapkan sejumlah program nyata:
- AI Teaching Tools: Alat bantu berbasis AI untuk membantu guru menyusun rencana pembelajaran yang relevan dengan konteks lokal. Program ini telah diujicobakan dalam pelatihan AI Literacy for Teachers dan mendapat respons positif dari para pendidik.
- Riset Analisis Sentimen: Dr. Ayu Purwarianti memimpin penelitian tentang sentiment analysis di sektor ekonomi dan keuangan, untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data yang lebih akurat.
- AI + Teknologi MR untuk Pendidikan: IAII juga tengah mengembangkan teknologi pendidikan yang menggabungkan AI dengan mixed reality (MR). Awalnya untuk menanamkan nilai kebangsaan melalui sejarah Indonesia, dengan potensi perluasan ke sektor industri dan pariwisata.
AI dan Masa Depan Ekonomi Indonesia
Angka-angka berikut menjadi pengingat betapa pentingnya kesiapan Indonesia menghadapi era AI:
- AI diproyeksikan berkontribusi antara 2,83% hingga 3,67% terhadap PDB Indonesia pada tahun 2030
- Nilai kontribusi tersebut setara dengan USD 366 miliar
Indonesia saat ini berada di peringkat ke-46 dari 62 negara dalam Global AI Index 2023