Articles

Fresh perspectives, deep dives, and thought-provoking stories on AI trends, ethics, and innovation, written to spark curiosity and action.

Event

Indonesia AI Institute (IAII) bersama UN Women menyelenggarakan Expert Group Meeting bertema AI dan Perempuan yang mempertemukan para pakar, praktisi hukum, akademisi, perwakilan pemerintah, dan aktivis hak perempuan untuk mendiskusikan secara mendalam ancaman teknologi kecerdasan buatan terhadap keselamatan perempuan di ruang digital. Forum ini menjadi ruang penting untuk memetakan risiko, mengidentifikasi kesenjangan regulasi, dan mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan yang terus berkembang. 

Tren KBGO yang Terus Meningkat

Shinta Ressmy dari SAFEnet mengungkapkan tren yang mengkhawatirkan: kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) di Indonesia melonjak dari 900 kasus pada 2023, menjadi 1.300 di 2024, dan 2.300 di 2025. Kini, AI telah menjadi senjata barunya. Kasus deepfake pornografi saja mencapai 46 kasus hanya dalam tiga bulan pertama 2025, dengan alat yang kini bisa diakses siapa saja dengan biaya sangat murah.

Nenden Sekar Arum dan Nurul Fazrie menegaskan bahwa fenomena ini sulit ditangani karena belum ada kerangka hukum yang mampu menjangkau kejahatan berbasis AI secara menyeluruh. Fakta yang paling memprihatinkan: korban termuda tercatat berusia 6 tahun, platform global masih mengalihkan risiko ke pengguna, dan wajah public figure digunakan tanpa izin dalam konten digital.

Perempuan: Paling Terdampak, Paling Jarang Didengar

Data menunjukkan 60% korban kekerasan seksual berbasis teknologi adalah perempuan. Dwi Juliawati dari UN Women menyebut kondisi ini sebagai manifestasi pelanggaran HAM yang bersumber dari tata kelola yang tidak berjalan baik. Iim Fahima dari IAII menambahkan bahwa selama pengambil keputusan belum memiliki kesadaran yang memadai, perlindungan perempuan di ruang digital akan terus diabaikan.

Isu yang lebih mendasar turut disorot: mayoritas teknologi dibangun tanpa melibatkan perempuan. Padahal inklusi yang nyata bukan hanya soal siapa yang menggunakan teknologi, tetapi siapa yang membangun dan membuat kebijakannya.

Kesenjangan Hukum dan Literasi Digital

Di sisi regulasi, Dedy Permadi dari Kemenko PMK mencatat bahwa meski UU TPKS cukup progresif, implementasinya belum efektif. Banyak aparat memilih pasal yang lebih lemah, penyidik minim keahlian digital, dan belum ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab atas kejahatan berbasis AI.

Dari sisi literasi, Derry Wijaya dari Monash University menegaskan bahwa pendidikan digital harus dimulai sejak dini. Maulana Akbar dari BRIN menambahkan bahwa tantangan ini terjadi di tiga level sekaligus: individu, masyarakat, dan pemerintah sementara AI terus berkembang jauh lebih cepat dari kesiapan semua pihak.

Event

Indonesia AI Institute (IAII) bersama UN Women menyelenggarakan AI Literacy Session khusus bagi tim internal UN Women Indonesia. Kegiatan ini merupakan langkah nyata dalam membekali para praktisi pemberdayaan perempuan dengan pemahaman yang mendalam tentang kecerdasan buatan tidak hanya sebatas cara penggunaan, tetapi juga cara berpikir kritis terhadap teknologi yang semakin membentuk dunia. 

Sesi ini berangkat dari sebuah kesadaran penting: memahami AI bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan terutama bagi mereka yang bekerja di garis terdepan pemberdayaan perempuan. Di dunia yang semakin digerakkan oleh algoritma, perempuan tidak boleh hanya menjadi objek data. Mereka harus menjadi bagian dari pihak yang merancang, mempertanyakan, dan mengawasi teknologi itu sendiri.

Pembahasan dalam sesi ini mencakup lima topik utama:

  1. Apa itu AI dan bagaimana cara kerjanya
  2. Jenis-jenis AI yang ada saat ini
  3. Sesi praktik langsung: Eksplorasi interaktif untuk memahami cara kerja AI secara nyata
  4. AI risk: Identifikasi potensi bahaya AI dan kelompok yang paling terdampak
  5. AI governance: Bagaimana memastikan AI berkembang secara etis dan berkeadilan

Kolaborasi antara IAII dan UN Women dalam sesi ini merupakan bagian dari komitmen bersama untuk mendorong ekosistem AI yang inklusif dan berkeadilan gender. UN Women, sebagai badan PBB yang berfokus pada kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, memiliki jaringan dan konteks yang kuat untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam adopsi teknologi.

Event

Indonesia AI Institute (IAII) kembali melanjutkan inisiatifnya dalam meningkatkan literasi kecerdasan buatan di kalangan tenaga pendidik melalui kegiatan AI Literacy for Teachers yang diselenggarakan di SMAN 3 Purwakarta pada 13 Febuari 2025. 

Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendasar hingga praktis mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence dalam proses pembelajaran. Para guru diajak untuk mengenal berbagai konsep AI serta bagaimana teknologi ini dapat membantu meningkatkan efektivitas pengajaran di kelas. Melalui pendekatan yang interaktif, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga terlibat dalam diskusi serta eksplorasi penggunaan berbagai tools berbasis AI yang relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti setiap sesi. Diskusi aktif antara narasumber dan peserta menciptakan suasana pembelajaran yang kolaboratif dan dinamis.Berbagai contoh implementasi AI dalam pendidikan diperkenalkan, mulai dari pembuatan materi ajar yang lebih menarik, hingga pemanfaatan AI untuk mendukung personalisasi pembelajaran sesuai kebutuhan siswa.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana peningkatan kompetensi, tetapi juga mempererat hubungan antara IAII dan institusi pendidikan. Kolaborasi ini diharapkan dapat terus berlanjut guna mendorong inovasi dalam dunia pendidikan. IAII berharap kegiatan seperti ini dapat memberikan dampak nyata bagi para guru, sehingga mereka semakin siap dalam mengintegrasikan teknologi AI ke dalam proses belajar mengajar.

Event

Pada 31 Januari 2025 Indonesia AI Institute (IAII) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong transformasi pendidikan melalui teknologi dengan sukses menyelenggarakan kegiatan AI Literacy for Teachers di SMPN 51 Bandung. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam memahami serta mengintegrasikan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) ke dalam proses pembelajaran. 

Melalui kegiatan ini, IAII memberikan pembekalan komprehensif kepada para guru terkait konsep dasar AI, penerapannya dalam pendidikan, serta bagaimana teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, adaptif, dan inovatif.Kegiatan diawali dengan sesi registrasi dan pembukaan, diikuti dengan rangkaian penyampaian materi yang interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi, mulai dari pengenalan AI hingga praktik langsung penggunaan tools berbasis AI dalam konteks pembelajaran.

Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif. Para narasumber menghadirkan berbagai studi kasus dan demonstrasi penggunaan AI untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, seperti pembuatan materi ajar, analisis kebutuhan siswa, hingga pengembangan media pembelajaran berbasis teknologi. Para guru diberikan kesempatan untuk berdiskusi, bertanya, serta mencoba langsung berbagai solusi AI yang relevan dengan kebutuhan mereka di kelas.

Kepala SMPN 51 Bandung, Nur Aini, menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap kegiatan ini.Ia menyatakan bahwa pelatihan ini memberikan wawasan baru yang sangat bermanfaat bagi para guru. “Para guru mendapatkan ilmu yang baru dan luar biasa sekali. Narasumbernya juga sangat luar biasa. Kegiatan ini sangat mengapresiasi karena memberikan ilmu baru dalam membuat perangkat pembelajaran dengan AI”.

Melalui kegiatan ini, IAII berharap dapat terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya dalam pemanfaatan teknologi AI. Ke depan, IAII berkomitmen untuk memperluas jangkauan pelatihan serupa ke lebih banyak institusi pendidikan, sehingga semakin banyak guru yang siap mengadopsi teknologi dalam proses pembelajaran.

Event

Indonesia AI Institute (IAII) sukses menyelenggarakan kegiatan AI Literacy Training for Teachers di SMPN 48 Bandung pada 30 Januari 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kompetensi guru dalam memahami dan mengimplementasikan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses pembelajaran.

Para peserta mendapatkan pengantar mengenai pentingnya literasi AI dalam dunia pendidikan, khususnya dalam mendukung metode pembelajaran yang lebih inovatif dan adaptif. Materi disampaikan secara interaktif, sehingga para guru tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memperoleh pengalaman praktis dalam penggunaan teknologi AI di kelas. Kegiatan ditutup dengan sesi ramah tamah dan foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan keberhasilan acara. 

Kepala SMPN 48 Bandung, Nur Aini, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan ini. Ia menuturkan bahwa pelatihan ini memberikan wawasan baru yang sangat bermanfaat bagi para guru. Menurutnya, para peserta merasa antusias karena mendapatkan pengetahuan praktis dalam mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis AI. Harapannya, kolaborasi antara IAII dan sekolah-sekolah dapat terus berlanjut guna membantu guru beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Melalui kegiatan ini, IAII menunjukkan komitmennya dalam mendukung transformasi pendidikan di Indonesia, khususnya dalam meningkatkan literasi AI di kalangan pendidik. Diharapkan, pelatihan serupa dapat terus diperluas ke berbagai sekolah untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih inovatif dan berbasis teknologi

Event

Indonesia AI Institute (IAII) menyelenggarakan pelatihan bertajuk Pelatihan Optimalisasi Pengelolaan Portofolio SBSN dengan Menggunakan Teknologi Artificial Intelligence (AI) bagi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari (25-26 Juni 2025). Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai pemanfaatan teknologi AI, khususnya Generative AI, dalam mendukung pengelolaan portofolio Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang lebih efektif, adaptif, dan berbasis data. 

Pada hari pertama, peserta memperoleh materi terkait dasar-dasar Artificial Intelligence dan eksplorasi Generative AI. Sesi ini bertujuan untuk membantu peserta memahami konsep fundamental AI, cara kerja teknologi AI modern, serta penerapan teknik prompting yang efektif untuk menunjang produktivitas kerja. Peserta juga diajak memahami bagaimana AI dapat digunakan sebagai alat bantu analisis, pengolahan informasi, hingga percepatan proses kerja di lingkungan pemerintahan dan pengelolaan keuangan negara. Tren pemanfaatan AI di sektor publik sendiri terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan transformasi digital di berbagai instansi pemerintahan.

Memasuki hari kedua, pelatihan berfokus pada aspek etika dan mitigasi risiko dalam penggunaan AI. Materi mencakup potensi risiko penggunaan AI, termasuk bias algoritma, privasi data, keamanan informasi, hingga pentingnya menjaga kepercayaan publik dalam implementasi teknologi di sektor pemerintahan. Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada berbagai implementasi AI untuk meningkatkan efisiensi kerja, seperti penggunaan AI untuk presentation support, pengolahan spreadsheet, analisis data, hingga decision support system. Pendekatan ini sejalan dengan meningkatnya perhatian berbagai institusi pemerintah terhadap tata kelola AI yang aman, bertanggung jawab, dan berorientasi pada pelayanan publik yang lebih baik.

Melalui pelatihan ini, IAII berharap para peserta tidak hanya memahami konsep AI secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya secara bijak dan strategis dalam mendukung pengelolaan portofolio SBSN yang lebih inovatif dan efisien. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari langkah kolaboratif antara IAII dan institusi pemerintahan dalam mempersiapkan ekosistem kerja yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Penguatan kompetensi digital, termasuk pemanfaatan AI, dinilai semakin penting untuk mendukung efektivitas pengelolaan keuangan negara dan pengambilan keputusan berbasis data.