FGD Guru Bandung: Krisis Literasi Siswa dan Tantangan AI di Pendidikan

|

Event

Indonesia AI Institute (IAII) bersama Pusat AI Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bersama para guru dari berbagai jenjang pendidikan di Kota Bandung. Kegiatan ini menghadirkan sembilan pendidik dari SD Salman Al-Farisi, SMPN 48 Bandung, SMAN 4 Bandung, dan SMA Pasundan 3 Bandung pada 14 Mei 2026. FGD ini bertujuan untuk menggali secara mendalam kondisi literasi siswa, tantangan karakter yang dihadapi guru, serta memetakan kebutuhan nyata para pendidik terhadap platform AI pendidikan yang sedang dikembangkan IAII. 

Krisis Literasi Mendalam yang Mengkhawatirkan

Salah satu temuan paling mencolok dari FGD ini adalah penurunan drastis kemampuan membaca mendalam (deep reading) di seluruh jenjang pendidikan. Para guru sepakat bahwa konsumsi konten digital pendek, terutama video singkat seperti yang ada di TikTok, telah menggeser budaya membaca siswa secara radikal.

Di tingkat SD, sekitar 50% anak malas membaca cerita panjang dan lebih memilih konten berbasis visual. Di jenjang SMP, kemampuan literasi mandiri yang ideal hanya tersisa pada sekitar 15% siswa — rata-rata hanya 5 dari 32 anak dalam satu kelas. Kondisi di SMA bahkan lebih mengkhawatirkan: hasil tes membaca cepat di awal kelas 10 menunjukkan 10% siswa masih mengeja, sekitar 60% berada di level kompetensi membaca setara SD-SMP, dan hanya 20–30% yang benar-benar memenuhi kualifikasi membaca tingkat SMA. Akibatnya, 90% siswa mengeluhkan kelelahan fisik dan mental saat menghadapi teks panjang.

Degradasi Karakter dan Kecemasan Sosial yang Meningkat

Di luar persoalan literasi, FGD juga mengidentifikasi fenomena yang tak kalah mengkhawatirkan: melemahnya ketangguhan mental (adversity quotient) siswa, krisis orientasi masa depan, dan meningkatnya kecemasan sosial seiring bertambahnya usia.

Tayangan digital telah mengonstruksi pemikiran banyak anak bahwa kesuksesan finansial tidak memerlukan jalur akademik formal, cukup menjadi content creator tanpa perlu menempuh pendidikan tinggi. Hal ini memicu pudarnya motivasi belajar dan mendorong sikap pilih-pilih pelajaran berdasarkan kesenangan semata. Yang memprihatinkan adalah anomali kecemasan sosial yang terjadi lintas jenjang. Di tingkat SD dan SMP, anak-anak umumnya masih antusias tampil di depan kelas. Namun di SMA, kecemasan sosial berkembang secara ekstrem: siswa berani menolak perintah maju ke depan untuk mengerjakan soal, bahkan ditemukan kasus siswa membolos hingga satu semester penuh karena takut menghadapi tugas presentasi kelompok. Bapak Rudy Ruliandi dari SMA Pasundan 3 Bandung menggambarkan kondisi ini dengan tepat: siswa bisa menjawab, tetapi kesulitan untuk menjelaskan jawabannya.

Ekspektasi Guru terhadap AI: Berbeda di Setiap Jenjang

Diskusi dalam FGD juga memetakan bagaimana ekspektasi para guru terhadap peran AI berbeda-beda sesuai jenjang pendidikan. Di tingkat SD, guru mengharapkan AI murni sebagai alat bantu administratif dan penyusunan modul pembelajaran. Di tingkat SMP, AI diharapkan dapat memfasilitasi eksplorasi belajar siswa dalam pantauan penuh. Sementara di SMA, kebutuhan guru bergeser menjadi sistem proteksi yang mampu mendeteksi manipulasi dan kecurangan dalam pengerjaan tugas.